Oleh: Muhammad Nazir, S.Pd
Guru PPKn MAN Dompu
Pandemi covid 19 yang sedang melanda dunia memberikan
pesan kepada kita bahwa manusia tidak boleh puas dengan keadaan mapannya. Kita tidak
pernah tahu, kapan suatu keadaan akan berubah dan dalam bentuk apa perubahan
tersebut akan terjadi. Seperti saat ini, dimana guru dan siswa tidak
diperkenankan bertemu dan bertatap muka namun diharuskan untuk tetap melaksanakan
kegiatan belajar mengajar. Untuk melaksanakan KBM itu, pemerintah telah
menyediakan beberapa fasilitas pembelajaran seperti pembelajaran elektronik
atau e-learning bagi masing-masing
madrasah dan sekolah serta pembelajaran yang bersifat terpusat dan massif melalui
layanan TV pemerintah atau TVRI. Semua usaha itu dilakukan agar kegiatan
belajar mengajar tidak berhenti dan juga usaha pemerintah untuk memutus mata rantai
penyebaran virus corona ini bisa berhasil.
Jika pemerintah telah berusaha menyediakan fasilitas
belajar dan kegiatan belajar terpusat maka pertanyaan selanjutnya apa yang
telah dilakukan oleh guru sebagai tenaga pendidik dalam melaksanakan
pembelajaran jarak jauh ini? Jawabannya pasti beragam karena situasi dan
kondisi madrasah atau sekolah yang berbeda-beda. Ada guru yang sudah melaksanakan
pembelajaran dengan e-learning, ada juga guru yang melaksanakan pembelajaran
berbasis Whats App Group bahkan ada juga yang tidak melaksanakan pembelajaran
sama sekali dengan berbagai macam alasan. Tentunya hal ini kembali pada pribadi
guru masing-masing.
Sebagai guru yang mengajar pada era teknologi ini, apa
yang mesti dilakukan agar pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, kreatif
dan menyenangkan? Untuk menjawab pertanyaan ini, menurut saya, ada beberapa
kriteria guru yang dapat beradaptasi dengan era teknologi ini:
1.
Guru memiliki jiwa yang terbuka
Jiwa yang terbuka artinya adalah kesediaan diri untuk
menerima masukan dan kritikan serta bersedia untuk terus menerus memperbaiki
dan memperbaharui pengetahuan dan pemahamannya tentang konsep dan teknologi pembelajaran
sehingga pembelajaran yang dilaksanakannya adalah pembelajaran yang tepat guna
dan berhasil guna.
Jiwa yang terbuka menjadi kunci utama jika ingin menjadi
guru yang berkembang. Pikiran yang terbuka serta tidak gengsi untuk bertanya
kepada rekan sejawat menjadi pintu masuknya pengetahuan dan juga motivasi karena
biasanya lewat diskusi guru-guru dapat saling memberikan pengalamannya serta
saling memotivasi untuk terus berusaha mengembangkan kemampuan dirinya.
2. Guru yang
tidak cepat merasa puas dan selalu tertantang untuk selalu meningkatkan kualitas
pembelajarannya
Sebagian guru ada yang enggan untuk meningkatkan kualitas
pembelajarannya karena menganggap metode pembelajarannya sudah cukup berhasil. Ada
juga yang tidak mau meningkatkan pembelajarannya karena malas berpikir dan
tidak mau repot dengan keadaannya.
Masalah diatas, itu adalah nyata terjadi. Biasanya terjadi
pada guru-guru yang sudah sepuh yang merasa cukup dengan apa yang telah
diperbuatnya. Namun bagi guru yang masih fresh
dan energik hal tersebut tidak boleh
dilakukan. Kita harus menyadari bahwa profesi guru adalah profesi yang
menentukan tingkat kemajuan suatu negara. Melalui pendidikan, kita sedang
menyiapkan proses regenerasi masa depan. Jika proses regenerasi ini berjalan baik
maka bisa dijamin masa depan akan baik dan maju dan sebaliknya jika proses
regenerasi ini kita laksanakan secara acak-acakan maka bangsa ini akan tetap
berada pada posisinya yang terbelakang.
3. Guru yang
tidak gaptek (gagap teknologi)
Sebagai guru milenial yang hidup pada era teknologi maka
pengenalan dan penguasaan terhadap teknologi mesti dilakukan. Lebih-lebih pada
kondisi pandemi covid 19 ini, peranan teknologi pembelajaran sangat dibutuhkan.
Pembelajaran yang dilaksanakan dari rumah akan sangat bermakna apabila
dilaksanakan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat.
Saat ini, perusahaan-perusahaan teknologi dunia
berlomba-lomba untuk menciptakan aplikasi yang bermanfaat untuk manusia, yang juga
bermanfaat untuk dunia pendidikan. Kita sebagai guru hanya perlu memanfaatkan
salah satu dari sekian banyak aplikasi yang disediakan untuk pembelajaran kita.
Namun begitu, aplikasi tersebut harus benar-benar mampu menjadi media untuk
melakukan pembelajaran secara efektif. Transfer
of knowledge dan transfer value nya
harus dipertimbangkan sehingga kita tidak asal-asalan dalam melaksanakan proses
pembelajaran.
4. Guru yang
pandai memanfaatkan situasi dan kondisi untuk memperbaiki kualitas
pembelajarannya
Kondisi belajar di rumah atau teaching from home menyadarkan kita semua bahwa guru harus siap
mengajar dalam semua kondisi. Suatu kondisi dimana guru dan siswa tidak diperbolehkan
bertemu dan bertatap muka namun harus tetap melaksanakan proses belajar
mengajar. Pada proses ini, guru harus menyiapkan diri sebaik mungkin serta
menyiapkan proses KBMnya sehingga bisa terlaksana. Hal-hal yang bisa
dilaksanakan guru antara lain, membuat group pembelajaran bisa lewat group Facebook
atau group Whats App. Lewat group ini nanti kemudian guru bisa memberikan
arahan-arahan bagaimana semestinya pembelajaran dilaksanakan.
